top of page

Apakah PPKM Level 3 Menjegal Pertumbuhan Industri?

Diperbarui: 4 Sep 2023


Apakah PPKM Level 3 Menjegal Pertumbuhan Industri?
Gambar 1. Apakah PPKM Level 3 Menjegal Pertumbuhan Industri?

Sumber: krakatausteel.com


Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan industri


Akibat melonjaknya kasus Covid-19 dengan varian Omicron, pemerintah Indonesia baru-baru ini telah menaikan status level PPKM di beberapa daerah menjadi level 3. Para pengamat industri kemudian menilai bahwa PPKM bisa berdampak pada nasib industri manufaktur dan menjegal pertumbuhannya pada tahun ini.


Institute For Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada tahun ini bakal meleset dari target pemerintah sebesar 4,5 persen hingga 5 persen.

Salah satu faktor yang menjadi tekanan adalah penyebaran Covid-19 varian Omicron yang mulai tinggi dan menyebabkan pemerintah menaikkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad memprediksi industri manufaktur akan tumbuh di bawah 4,5 persen karena sejumlah sektor penopang terancam tergerus kinerjanya oleh kenaikan level PPKM. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur sebesar 3,39 persen sepanjang tahun lalu. Khusus untuk industri pengolahan non migas, pertumbuhannya sebesar 3,67 persen. Capaian tersebut di bawah target Kementerian Perindustrian yang sebesar 4 persen hingga 4,5 persen.


Dilansir dari Bisnis.com Tauhid mengatakan bahwa, "Agak berat kalau 4,5 persen, saya menduga di bawah 4,5 persen karena industri pokok seperti makanan minuman, kontribusinya besar sekali. Kalau yang pokok mengalami penurunan, dampaknya ke agregat industrinya juga turun."


Beliau melanjutkan, selain Mamin, sektor yang kemungkinan akan terkontraksi jika PPKM kembali dinaikkan menjadi level 4 yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Adapun, industri barang logam dan elektronik diprediksi masih akan negatif pertumbuhannya karena kebutuhan domestik yang masih rendah di awal tahun ini.


Selain terdampak varian Omicron dan PPKM, sektor industri juga masih harus berjibaku dengan tantangan lain seperti lonjakan harga bahan baku dan kenaikan biaya energi.


Ketersedian bahan baku dan kenaikan biaya energi juga diketahui menjadi hambatan bagi pertumbuhan industri. Seperti industri furnitur yang diketahui terkendala bahan baku kayu.


Faktor lain yang menahan pertumbuhan industri, lanjutnya, yaitu daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Dengan merebaknya varian Omicron, industri yang kemungkinan besar akan terakselerasi yaitu kimia, farmasi, dan obat tradisional.


Sementara itu, mengenai penanganan pandemi, Tauhid mengingatkan pemerintah untuk tetap berhati-hati meskipun tingkat vaksinasi sudah tinggi dan dampak Omicron relatif lebih ringan daripada Delta. Pembatasan ketat dengan penaikan PPKM menjadi level 4 bisa diputuskan terutama di daerah-daerah dengan tingkat infeksi yang tinggi.


"Jadi misalnya DKI besar [jumlah kasusnya], ya sudah DKI dulu saja diterapkan, jadi bisa diantisipasi. Misalnya Kalimantan masih bisa dibendung, ya jangan diberlakukan," jelas Tauhid.


Kemudian, program pemulihan ekonomi negara (PEN) juga harus segera direalisasikan, baik untuk perekonomian dan kesehatan. Terutama bantuan sosial (bansos), agar daya beli tetap meningkat di tengah PPKM level 3.


Dihubungi terpisah, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga mengatakan hal yang senada. Menurutnya Indonesia akan sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5%.



Kunjungi website kami:




17 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comentarios


bottom of page